Di tahun 2008 saya merantau ke Banda Aceh, saya kuliah di jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kampus "jantong hate" nya rakyat Aceh, salah satu kampus ternama di Aceh bahkan di Indonesia dan jurusan teknik mesin merupakan jurusan favorit dan nomor satu di Unsyiah saat itu. Saat lulus di jurusan teknik mesin saya begitu bangga dan senang, saya tidak sadar bahwa itu adalah awal musibah bagi saya :( , ternyata jurusan tersebut tidak cocok dengan saya tepatnya di semester IV, yaitu tahun 2010 saya "angkat kaki" dari unsyiah dan pindah ke Akademi Manajemen Informatika Indonesia (AMIKI) Banda Aceh, namun di balik musibah pasti ada berkah dan hikmahnya. :)
Selama kuliah di AMIKI saya punya banyak waktu untuk bekerja,di sela-sela jam kuliah saya mengelola sebuah kios pulsa, dengan berjualan di kios tersebut Alhamdulillah bisa membiayai jajan sehari-hari bahkan uang kuliah sendiri, itu berkah yang Allah berikan. Nah, tepat di tahun 2013 kuliah selesai, musibah pun kembali' menghantui' saya, yaitu musibah jadi pengangguran. :(
Saya takut jadi pengangguran, karena jika tak punya kerja jangan kan kawan kadang keluarga kita sendiri tidak suka sama kita, tapi tidak semua keluarga seperti itu juga ya J, selama tahun 2013 banyak musibah yang saya alami, diantaranya saya di ajak gabung oleh salah seorang pimpinan peursuhaan konsultan yang bergerak di bidang proyek pembangunan jalan, jembatan, gedung dan sebagainya. Saya jadi operator komputer di perusahaan konsultan yang di pimpin oleh orang tersebut. Saya dapat tugas membuat laporan proyek yang sedang di kerjakan, bahkan gaji karyawan yang kerja di lapangan juga tanggung jawab saya untuk membayar kepeda mereka setiap bulannya.
Seiring waktu berlalu saya pelajari sedikit demi sedikit ternyata pekerjaan saya sehari-hari penuh dengan kecurangan, dari meniru tanda tangan orang-orang demi kelancaran proyek yang sedang dikerjakan sampai pemalsuan data-data lainnya, sugguh itu pekerjaan yang tidak baik, itu adalah musibah. Hari-hari saya semakin gelisah dan tidak nyaman bekerja di konsultan sehingga pada suatu hari pimpinan saya mengatakan “Pue ka pike kah ?, tanyoe kerja bak jen ,peng dari jen jok keu jen lom”(Apa yang kamu pikirkan ? kita kerja sama jin, uang dari jin yang terima juga jin, ). Musibah semakin nyata, sehingga membuat saya semakin mantap untuk meninggalkan pekerjaan tersebut, tapi saya tidak punya alasan untuk keluar , lalu Allah memberikan musibah pada keluarga saya di kampung sehingga saya harus pulang ke kampung.
Kesempatan saya pulang kampung juga kesempatan saya untuk keluar dari perusahaan tempat saya bekerja saat itu. Keluarga saya sakit adalah musibah, berkah yang saya dapati adalah saya bisa keluarga dari musibah pekerjaan saya. J
Selama sebulan di kampung lalu saya kembali ke Banda Aceh untuk mencari kerja lagi, hari-hari berlalu kerja pun tak saya dapati. Sehingga pikiran semakin kacau , gelisah, resah, bisa dibilang saya sudah putus asa saat itu untuk mencari kerja , uang tahungan semakin menipis , keluar rumah saya kurangi, saya hanya tidur-tiduran dan nonton TV di kos demi menghemat pengeluaran. Suatu sore ketika saya sedang nonton berita di TVRI, saya lihatlah berita tentang Majelis Zikrullah Aceh dibawah pimpinan Syaikh Muda Tuanku Tgk. Samunzir bin Husein yang sedang beristighfar di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), istighfar yang di lantunkan langsung menyentuh hati saya, saya ingin hadir ke majelis tersebut tapi saya tidak tau caranya, sehingga pada malamnya saya ajak kawan untuk pura-pura jalan-jalan ke PKA padahal tujuan saya ingin melihat Majelis tersebut, saya lihat jamaah begitu ramai , dan saya ajak kawan saya untuk berhenti dan melihat sejenak Majelis Zikrullah Aceh yang sedang bershalawat saat itu, tapi jawaban kawan saya tidak mendukung, kawan saya jawab “itu bukan tempat kita,kita jalan-jalan saja”, ya sudah saya pun ikuti kemauan dia.
Seminngu setelahnya, saya lihatlah spanduk di Sp. Jambo Tape yang isinya ajakan untuk hadir Zikir Akbar di Mesjid Raya Baiturrahman pada malam Jum’at, dan kesempatan itu tidak saya sia-siakan, pada malam Jumat nya saya langsung ke Masjid Raya, setelah shalat Isya berjamaah sambil menunggu pimpinan yaitu Syaikh Muda Tuanku Tgk.Samunzir Bin Husein, jamaah di instruksikan oleh Tgk. Anwar Zainal Abidin untuk bershalawat yang di pandu Tgk,Idham Khalid saat itu,”Allahumma Shalli’ala Saidina Muhammad Ya Rabbi Shalli’alaihi Wasallam” , saya tidak percaya kalau saat itu sedang berada dalam Majelis Zikrullah Aceh yang bisa membuat mata saya langsung berkaca-kaca begitu mendengar shalawat pertama yang dibacakan secara bersama-sama oleh ribuan jamaah.
Saya begitu terharu bisa hadir dalam majelis yang mengagungkan nama Allah dan Rasulullah tersebut. Bebarapa menit kemudian ketika sedang bershalawat datanglah Syaikh Muda Tuanku Tgk. Samunzir bin Husein, yang membuat sebagian jamaah yang berada di shaf depan bangun untuk memberi rasa takzim kepada Syaikh Muda, dan itu membuat saya semakin kagum akan majelis yang sedang saya hadiri saat itu. Ketika Syaikh Muda mulai tausiah , tibalah saat-saat dimana semangat jamaah yang sedang mendengarnya akan berkobar-kobar untuk membela , berjuang, mempertahankan agama Allah termasuk saya saat itu.(bahkan anda yang bakal menghadirinya suatu saat nanti juga akan merasakannya. Hadirlah kalau anda penasaran dengan majelis tersebut).
Setelah tausiah lebih kurang 30 menit, mulailah berzikir. Dengan ribuan jamaah, berzikir secara bersamaan yang di pimpin Syaikh Muda, dengan irama lantunan zikir yang waktu saya masih kecil pernah saya dengar kakek saya mabacanya dengan irama persis sama yang membuat hati saya langsung merasa disinilah tempatlah saya sesungguhnya. Dan pikiran saya langsung terbayang wajah kakek & nenek saya yang sudah almarhum puluhan tahun silam. Saya begitu terharu, mata saya kembali berkaca-kaca, seakan-akan mau menetes air mata. Saat itulah rasa gelisah, resah dan keputus asaan saya dalam mencari kerja hilang, tidak terlalu saya pikirkan lagi, saya selalu berusaha untuk hadir dimana ada kegiatan Majelis Zikrullah Aceh saat itu bahkan sampai sekarang karena di Majelis Zikrullah Aceh lah hati saya jadi tenang, damai dan tentram.
Dan selama mengikuti zikir bersama Majelis Zikrullah Aceh tidak menghambat saya untuk mencari kerja,saya terus berusaha untuk mencari kerja dengan tenang bukan dengan kegelisahan dan malam nya berdoa bersama Majelis Zikrullah Aceh karena seperti yang sering Syaikh Muda sampaikan dalam tausiah-tausiahnya: “Tugas kita manusia berusaha dan berdoa, urusan di kabul atau tidak doa kita itu hak nya Allah, tapi ingat, Allah berjanji jika kita bersungguh-sunguh dan yakin maka Allah akan mengabulkannya dan janji Allah itu pasti”. Alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Banda Aceh, dan malamnya saya selalu mengikuti dimana ada kegiatan Majelis Zikrullah Aceh.
Insya Allah Berkah.
Sadar atau tidak berkah dibalik musibah pasti ada,oleh sebab perjalanan hidup saya penuh dengan keresahan, kegelisahan dan keputusaan sehingga Allah menggerakkan hati saya untuk berhimpun diri bersama Majelis Zikrullah Aceh sehingga hati saya jadi tenang dan nyaman dengan semua keadaan yang saya hadapi saat ini. Itu merupakan salah satu BERKAH TERBESAR DALAM HIDUP SAYA KARENA ALLAH MENGIZINKAN SAYA BERHIMPUN DIRI DALAM MAJELIS ZIKRULLAH ACEH.
Kiriman : Aneuk Tulot.
 |
Comments
Post a Comment